[nama vendor][kategori] @ [jalan][daerah]

Sesajen, Ritual Doa Bagi Sang Pencipta (bagian I)


 

Sesajen tidak hanya sekedar warisan budaya animisme guna menolak malapetaka semata. Sejatinya, sesajen merupakan simbol permohonan akan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi masyarakat yang masih memegang teguh nilai-nilai tradisi, tentunya sajen atau sesaji bukanlah sebuah hal yang dianggap kuno dan aneh. Justru hal tersebut dinilai sangat sakral. Ritual yang merupakan warisan dari budaya Hindu dan Budha ini, dahulu biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat yang dianggap keramat. Dengan menghidangkan aneka makanan, bunga-bungaan atau buah-buahan di lokasi yang dinilai memiliki daya spiritual itu, diyakini mampu menolak malapetaka. Dan bagi yang hendak mengadakan hajatan besar, seperti mantenan, berharap agar acaranya sukses, mendatangkan rezeki, tidak hujan, hidangannya cukup dan tidak kekurangan.

 

Sayangnya di era modern ini, ritual sajen kerap dianggap sebagai sebuah perbuatan klenik, yang mempunyai stigma negatif. Hanya sedikit yang melihatnya sebagai manifestasi lain dari doa. Terlepas dari itu semua, sejatinya sajen mengandung arti sebagai penghormatan serta rasa syukur terhadap kemahadayaan Tuhan Yang Maha Esa. Yang pasti, kearifan lokal yang tersemat dalam sesajen perlu dikaji bukan dicaci.

Di bumi Nusantara ini, hampir semua upacara adat menggunakan sesajen. Upacara pernikahan adat Jawa, misalnya. Dalam tradisi Jawa, sesajen biasanya akan disiapkan sebelum pemasangan tarub dan bekletepe. Sesajen yang disajikan diantaranya berupa nasi tumpeng, berbagai macam buah-buahan, lauk-pauk, penganan (kue jajan pasar), minuman, bunga, jamu, daging kerbau, gula kelapa dan sebuah lentera. Sesajen ini adalah simbol permohonan akan restu dari para leluhur, serta keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

 

Secara teknis, sesajen disusun di atas nampan atau biasa disebut teblok. Kemudian diletakan di beberapa area rumah calon mempelai, mulai dari dapur, kamar mandi, pintu depan, di bawah tarub, dan jalan yang dekat dengan rumah. Umumnya perangkat dan isi sesajen hampir serupa pada setiap daerah, yaitu terdiri atas; jajanan warna pitu, seperti: roti, bolu, rengginang, kupat dan kupat lepet, pisang raja, pisang ambon, pisang emas, pisang angling (masing-masing sebanyak satu ikat). Cerutu atau rokok, nasi tumpeng beserta lauk-pauknya, bubur merah putih dalam takir (wadah yang terbuat dari daun pisang), cabai dan bawang merah ditusuk pada sebuah lidi pelengkap lalaban. Wedang lima yang isinya: air kopi manis dan kopi pahit, teh manis dan teh pahit, air putih, air kawah (campuran air santan dan kopi), rujak pisang (campuran gula merah dan pisang diiris dan diberi air panas). Air putih dalam kendi, lampu atau cempor (terbuat dari kaleng diberi minyak tanah dan sumbu atau kapas). Dupa berisi arang menyala dan kemenyan, yang terakhir kembang tujuh rupa (seperti kembang kingkong, kembang melati, kembang mawar warna merah dan putih, kembang kantil, kembang kenanga dan kembang sepatu.


Teks Teddy Sutiady Foto Robby Suharlim, dok. Gigih Santoso

RELATED ARTICLES
Rahasia Memutihkan Ketiak
Pepaes Solo Yogya - Serupa Namun Tak Sama
Ramuan Tradisional Pengusir Bau Mulut
Aromatik untuk Menaklukkan Si Dia

ARTICLE CATEGORIES
Share The Tales Contest
Honeymoon Story Contest
Jewelry
Beauty & Fashion
Share The Tales
Events, Highlights & Products
Wedding Life
Honeymoon & Destination Weddings
Wedding Style